Allah

468x60 ads

RAHMAT ARIES BLOG'S



Afwan... Hanya Sesachet Lotion.

"AKUMASIHBELAJAR"

Rembulan menyinari bumi, dikala air hujan menetes membasahi dedaunan..
Tenang...
Damai....
Saat itu pukul 12 Malam, mungkin waktu seperti ini sebagian orang sudah terjaga dari tidurnya, melangkah ke dunia keduanya, dunia fantasi.bahkan jam segini Cinderella sudah meninggalkan prom nite dengan menaiki kereta labunya. Namun, tidak untuk 2 sekawan ini yang masih beraktifitas. Aktivitas yang boleh dibilang tidak terlalu bermanfaat, menonton animasi. Adegan kucing dan anjing itu membuat perut ini bagaikan bom yang ingin meledak, sangking lucunya.
Astagfirullah.. mungkin terlalu berlebihan.

Detik demi detik telah berlalu, hingga suatu ketika terdengar suara motor. Mungkin kak hendrah yang datang, langkahan kaki itu terdengar melangkah semakin dekat bagaikan irama tuts piano dari do hingga do tinggi. Terdengarlah kalimat "Assalamualaykum", ternyata benar beliau yang datang. Tampak dari mimik mukanya yang begitu lelah. Air hujan membasahi rambut hitamnya dan pakaian yang dikenakan. Hingga terlontar dari mulutnya suatu kabar berita. Salah seorang kakak kesayanganku sakit. Astagfirullah, aku sangat kaget hingga dalam posisi 90 derajat, kamar yang bagaikan kapal pecah ini, serasa ingin tenggelam di dalamnya samudra atlantik. Yah... Beliau, Beliau orang yang berpengaruh dalam hidupku, sedang melawan penyakitnya. Hcl yang menguasai lambungnya, membuat dinding lambungnya itu tidak bisa berdaya... Mungkin rintihan, tetesan air mata , atau hantaman perih ketika asam korosif itu ingin menembus dinding lambungnya. Malam itu membuatku sangat shock, ingin rasanya meneteskan air mata. Tapi, saya berusaha untuk profesional menyembunyikan perasaan ini. Aku tarik saudaraku itu, untuk segera berlari atau bahkan terbang menuju masjid ulil itu. Ibarat di tengah padang pasir melihat oase yang begitu indah, rasa dahaga ingin meminum segarnya air tersebut. Ku, off-kan laptopku dan bergegas menuju kesana. Dengan langkahan yang terpacu dengan waktu, ku langkahkan kaki ini sambil menahan kesedihan.
Bagaimana kondisi kakak tersayangku itu.?
Apakah dia sudah makan?
Apakah ada orang disampingnya?
Astagfirullah...
Pertanyaan ini terus terbayang dipikiranku ingin rasanya segera berada disamping beliau. Saudaraku dhani pun mentancap motorku dan menuju masjid ulil albab. Didepan gerbang, lampu jalan menyinari kami membukakan jalan dalam memangkas kegelapan malam itu. Ternyata, Gerbang itu tertutup. Alhamdulillah, saudaraku dhani berpengalaman dalam hal ini... dia pun mengarahkan motorku ke arah pintu kecil, dan akupun masuk meninggalkan saudaraku itu.

Langkah ini begitu cepat, ingin rasanya melihat kondisi kakak tersyangku ini.
Daun ketapang jatuh disampingku, tak berdaya. Apakah ini pertanda buruk, Astagfirullah... kegalaun hati sampai mempercayai hal aneh seperti itu.
Ku langkahkan kakiku ini, dan membuka pintu ulil albab.

MashaAllah, lampu nan indah menyinari tegel-tegel putih yang bersih. memberikan petunjuk jalan bagi semut merah yang berjalan mencari makanan. Rasa panikku ini semakin membara ketika melihat ikhwah yang tidur pulas di karpet merah nan sederhana itu. Ku perhatikan wajah mereka satu per satu, berharap menemukan wajah kakak tersayangku. Dari ujung hingga ujung, aku mencarinya. Namun, Aku tidak mendapatkan beliau. Ataukah di balik hijab? Mungkin, Akupun berlari menuju hijab hijau itu. aku berharap, melihat kakak tersayangku tertidur dengan tenang diatas kasur nan lembut dilapisi selimut putih. Alhasil, hanya mendapatkan seorang ikhwah yang online. Rasa kecewa menyetrum hati ini. Apakah beliau pulang ke kosnya? Tidak.! , akupun bertanya, dan beliau melontarkan keberadaan kakak tersayangku itu.
Ternyata, disamping mimbar. Aku berlari menuju tempat tersebut, bagaikan melihat uang 100rb yang terjatuh di jalanan.

Alhamdulillah, kakakku sudah tertidur pulas. Dhani pun duduk disamping mimbar sambil membaca buku. Sempat meneteskan air mata melihat kondisi beliau. Sedih, karna tidak ada disampingnya ketika HCL itu menghadang.
Kulihat disekelilingnya, begitu banyak makanan yang dibawakan oleh ikhwah.
Roti... Kue... Bakso, Atagfirullah, aku tidak bawa apa-apa? hanya ada uang 6rb di kantongku, itupun uang bensin. Aku sedih, sosok begitu penting dalam hidupku ketika mengalami kesakitan aku tidak berada disampingnya. Akupun duduk disamping beliau, memperbaiki sarung yang menutup kaki mungilnya.
Terasa dingin, menusuk tulang ini. Belum lagi hewan insect ini menganggu beliau. membuat ketenangan beliau terganggu.
Hati ini merontah, apa yang harus ku lakukan.
Aku berdiri, dan berfikir...
Apa yang bisa saya lakukan pukul 12.30 tengah malam.
Aku pun keluar masjid, berlari mecari lotion anti nyamuk....
Berlari keluar melewati dedaunan kering yang tak berguna, melewati pintu kecil sambil gerang...

Suasana sunyi sepi, tidak ada lagi orang beraktifias saat itu. Aku pun berlalu mencari toko yang masih menjajakan jualannya,
Berlari menuju toko sebelah kiri, alhasil tidak menemukan sama sekali... Hingga suatu ketika, aku pun berlari menuju pertigaan berharap ada toko yang terbuka.. ku kerahkan tenaga sekuat mungkin...
berlari... ibarat berada di pertandingan SEA GAMES melawan pelari sprinter dari Thailand.
Alhamdulillah...
Kulihat rumah kecil nan sederhana, serta lampu yang menyinari kayu penutup rumahnya.
Berharap, menjual lotion anti nyamuk.
Alhamdulillah, tanpa basa basi.. aku pun menarik lotion itu dan menaruh uang seribu perak itu diatas tumpukan roti berbagai rasa itu...
Hati ini begitu tenang, karena telah mendapatkan...
Ingin rasanya berada disamping kakakku itu, menjaganya...

Langkahan kaki ini, semakin melaju... Ibarat kijang yang dikejar oleh cheetah di afrika selatan, dengan peci putih ku yang ku pegang, ku kerahkan tenaga...
Seorang bapak bersepeda kumbang, menamparkan mimik wajah penuh tanda tanya kepadaku.
Aku pun tidak menghiraukan, pokoknya harus secepat mungkin.

Tiba di masjid ulil...
Aku buka pintu, masih ku lihat saudaraku dhani asyik membaca kitab fikih yang ditemani oleh sinaran bohlam 5 watt itu.
Berlari menuju kamar 1x2 itu, aku pun menggigit lotion itu, dan mengusapkan ke tanganku.

Kuusapkan lotion itu ke kaki beliau, berharap beliau tidak terbangun. Tangannya yang tadinya digigit nyamuk, telinganya yang kecil, dan dahinya... Beliau pun bergerak, mengubah model tidurnya, hal ini wajar karena sifat refleks.
Aku pun mengusap pada kaki nya untuk penghabisan.
Air mataku pun jatuh...
Melihat kondisi kakaku ini.
Tangan yang penuh lotion ini ku usapkan ke kakinya yang satu lagi...
Dan Hati berkata,
Ya Allah sembuhkanlah kakakku ini...
Berikanlah beliau ini kesehatanmu...
Aku sangat menyayangi beliau karena-Mu ya Allah...

Kenangan yang begitu indah bersama beliau... tiba-tiba terflashback, bagaikan arus listrik yang menghidupkan bohlam lampu...
Berkenalan lewat SMS...
Nasehat yang selalu diberikan...
Bertengkar dengan beliau...
Mengingatkan untuk tarbiyah....
Melancong ke Takalar, bertemu dengan adek lucu....
Mabit di rumah...
Berduaan curhat-curhatan...

Ya Allah...
Ampunilah dosa kami, pertemukaanlah kami di jannah-Mu.
Persaudarakan kami karena-Mu...
Semoga kami salah satu golongan yang di naungi oleh-Mu Ya Allah...

Air mataku pun menetes, membasahi sarung lusuh yang digunakan.
Dan berkata,

Afwan kakakku, Hanya Sesachet Lotion yang bisa ku Berikan.

1 komentar:

Poskan Komentar