Allah

468x60 ads

RAHMAT ARIES BLOG'S



Anak Cemerlang Prespektif Piaget dan Psikologi Islam



Memiliki anak yang cermerlang merupahkan dambaan setiap ibu. Berprestasi di sekolah, mampu menyelesaikan permasalahan , dan membanggakan orang tua. Hal ini dapat di realisasikan ketika adanya kerja sama antara orang tua dan si calon anak. Banyak factor yang menyebakan perkembangan pada anak menjadi cemerlang. Oleh karena itu, sebagai orang tua yang bijak, tentu harus selalu siap mewujudkan cita-cita buah hatinya.Persiapan apa sajakah yang harus disiapkan oleh para orang Tua. Dalam tulisan ini akan dijelaskan bagaimana mempersiapkan anak cemerlang berdasarkan teori perkembangan kognitif piaget dan pendekatan agama. 


1.      Tahap Perkembangan Masa Prenatal.
Pada umumnya ahli psikologi perkembangan membagi periode prenatal atas tiga tahapan perkembangan yaitu:
a.      Tahap germinal
Yaitu periode zigot,ovum, atau periode nutfah, adalah periode awal kejadian manusia. Periode ini berlangsung kira-kira 2 minggu pertama dari kehidupan, yakni sejak terjadinya pertemuan sel sperma dan sel telur.
Hal yang perlu diperhatikan oleh si ibu:
Menjaga kondisi tubuh serta mengonsumsi makanan yang bergizi guna menjaga vitalitas, karena pada fase ini proses kedua sel telur bertemu.
b.      Tahap Embrio.
Tahap yang kedua dari periode prenatal disebut embrio, atau dalam psikologi islam di sebut dengan tahap ‘alaqah, yaitu segumpal darah yang membeku. Tahap ini terjadi ada 2 minggu sampai 8 minggu.
Hal yang perlu diperhatikan oleh si ibu:
Sama halnya tahap germinal, pada periode ini si ibu harus menjaga vitalitas supaya mengurangi tingkat keguguran.
c.       Tahap Janin.
Peride ketiga dari perkembangan masa prenatal disebut dengan periode fetus atau periode janin, yang di dalam psikologi islam periode mudhqhah. Periode ini dimulai dari usia 9 minggu hingga lahir.

d.      Prespektif Psikologi Islam dalam Fase ini
Ternyata Al-Qur’an dapat merangsang tingkat inteligensia (IQ) anak, yakni ketika bacaan ayat-ayat Kitab Suci itu diperdengarkan dekat mereka. Dr. Nurhayati dari Malaysia mengemukakan hasil penelitiannya tentang pengaruh bacaan Al-Qur’an dapat meningkatkan IQ bayi yang baru lahir dalam sebuah Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam sekitar tujuh tahun yang lalu. Dikatakannya, bayi yang berusia 48 jam saja akan langsung memperlihatkan reaksi wajah ceria dan sikap yang lebih tenang. Penulis pun mempunyai seorang keponakan yang lahir tahun 2002. Entah ada kaitan dengan dengan argumentasi di atas, yang jelas sebelum umurnya satu tahun, ia sering baru bisa tidur bila di sampingnya diperdengarkan suara orang mengaji melalui tape recorder.  Seperti diketahui, dengan mendengarkan musik, detak jantung bayi menjadi teratur. Malah untuk orang dewasa akan menimbulkan rasa cinta. Hanya arahnya tidak tentu. Sedangkan Al-Qur’an, selain itu, sekaligus menimbulkan rasa cinta kepada Tuhan Maha Pencipta. Jadi, bila bacaan Al-Qur’an diperdengarkan kepada bayi, akan merupakan bekal bagi masa depannya sebagai Muslim, dunia maupun akhirat.

Dalam musik terkandung komposisi not balok secara kompleks dan harmonis, yang secara psikologis merupakan jembatan otak kiri dan otak kanan, yang output-nya berupa peningkatan daya tangkap/konsentrasi. Ternyata Al-Qur’an pun demikian, malah lebih baik. Ketika diperdengarkan dengan tepat dan benar, dalam artian sesuai tajwid dan makhraj, Al-Qur’an mampu merangsang syaraf-syaraf otak pada anak. Ingat, neoron pada otak bayi yang baru lahir itu umumnya bak “disket kosong siap pakai”. Berarti, siap dianyam menjadi jalinan akal melalui masukan berbagai fenomena dari kehidupannya. Pada gilirannya terciptalah sirkuit dengan wawasan tertentu. Istilah populernya apalagi kalau bukan “intelektual”. Sedangkan anyaman tersebut akan sernakin mudah terbentuk pada waktu dini. Neoron yang telah teranyam di antaranya untuk mengatur faktor yang menunjang kehidupan dasar seperti detak jantung dan bernapas. Sementara neoron lain menanti untuk dianyam, sehingga bisa membantu anak menerjemahkan dan bereaksi terhadap dunia luar. Selama dua tahun pertama anak mengalami ledakan terbesar dalam hal perkembangan otak dan hubungan antar sel (koneksi). Lalu setahun kemudian otak mempunyai lebih dari 300 trilyun koneksi, suatu kondisi yang susah terjadi pada usia dewasa, terlebih usia lanjut.
Makanya para pakar perkembangan anak menyebut usia balita sebagai golden age bagi perkembangan inteligensia anak Memang bila orangtua tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan jalan membantu dari belakang, maka tetap tidak akan mempengaruhi kemampuan otak anak dalam menganyam neoron, karena kesempatan untuk memperkuat koneksi otak terbuka luas selama masa anak-anak. Tetapi tentu akan semakin baik bila orangtua pun ikut aktif membantu. Otak telah tumbuh jauh sebelum bayi lahir. la telah mulai bekerja yang hasilnya merupakan benih penginderaan berdasarkan prioritas. Umumnya pendengaran lebih dulu. Jadi, selama masa itu penting sekali untuk selalu menghadirkan lingkungan kondusif dan baik bagi perkembangan otaknya. Hilangnya lingkungan ini hanya akan membuat otak menderita dan menganggur yang gilirannya mempengaruhi tingkat kecerdasannya. Dalam kaitan upaya meningkatkan pribadi Muslim, seyogyanya bayi sudah diperdengarkan bacaan Al-Qur’an sejak dalam rahim. Jadi, bila ada anjuran kepada ibu-ibu hamil untuk rajin membaca Al-Qur’an menjelang bersalin, itu ada dasar ilmiahnya juga. Makin baik dan benar bacaan itu, termasuk lagunya, makin baik hasilnya. Tujuannya tentu saja bukan mengajak bayi memahami substansi atau makna kandungan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi memperkuat daya tangkap/konsentrasi otak bayi. Sehingga akan semakin mudahlah ia menghafal ayat-ayat Al-Qur’an beserta terjemahannya ketika sudah memasuki masa belajar.


2.      Faktor yang memengaruhi perkembangan prenatal.
a.      Kesehatan Ibu
Penyakit ibu yang diderita ibu hamil dapat memengaruhi perkembangan prenatal. Apalagi penyaki tersebut bersifat kronis seperti kencing manis, TBC, rasang saluran kencing, penyakit kelaminan, dan sebagainya. Demikian pula, bila terjadi benturan ketika janin berusia 3 bulan disertai dengan gangguan kesehatan pada ibu, seperti influenza, gondok, atau cacar, dapat merusak perkembangan janin.
b.      Gizi Ibu.
Factor lain yang cukup berpengaruh terhadap perkembangan pada masa ini, karena gizi sang ibu. Oleh karena itu, makanan ibu yang sedang hami harus mengandung cukup protein, lemak, vitamin, dan karbohidrat untuk menjaga kesehatan bayi.
c.       Pemakaian Bahan kimia.
bahan-bahan kimia yang terdapat pada obat-obatan atau makanan yang ada dalam peredaran darah ibu yang tengah hamil, dapat memengaruhi perkembangan janin. Bahan tersebut akan menimbulkan efek samping, baik fisik maupun sistm kimia dalam tubuh. Oleh karena itu, ibu yang sdang mengandung sebaiknya tidak mengonsumsi bahan kimia tersebut.

3.      Tahap Perkembangan Kognitif Piaget.
Setelah menjelaskan mengenai periode prenatal, salah satu teori perkembangan untuk mempersiapkan anak cemerlang dengan menggunakan teori kognitif piaget.
a.      Tahap Sensorimotor.
Pada tahap ini terjadi pada usia 0-2 tahun. Bayi bergerak dari tindakan reflex instinktif pada saat lahir sampai permulaan pemikiran simbolis. Bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia melalui pengkoordinasian pengalaman senso dengan tindakan fisik.

Hal yang diperhatikan oleh si ibu:

Pada masa golden years pembentukan sistem saraf secara mendasar sudah terjadi. Pada masa ini terjadi hubungan antara sel-sel sraf tersebut. Kuantitas dan kualitas sambungan ini menentukan kecerdasan balita. Pada masa ini perkembangan otak terjadi secara keseluruhan pada keempat bagian otak, termasuk pada masing-masing belahan otak. Belahan otak inilah yang akan menyimpan kemampuan-kemampuan anak yang berbeda, yakni pada belahan otak kanan maupun kiri.Otak kiri berhubungan dengan tangan, kaki dan tubuh sebelah kanan. Otak kiri terutama mengendalikan aktivitas yang bersifat: teratur, berurutan, rinci, sistematis, misalnya : membaca, menulis, menghitung. Sedangkan otak kanan berhubungan dengan tangan, kaki dan tubuh sebelah kiri. Otak kanan terutama mengendalikan aktivitas yang bersifat : berfikir divergen (meluas), imajinasi, ide-ide, kreativitas, emosi, musik, spiritual., intuisi, abstrak, bebas, simultan.

Oleh karena itu, jika kita menginginkan anak dengan kecerdasan multipel latihlah kedua tangan, kaki, mata, telinga kanan dan kiri sama seringnya setiap hari, terutama sampai umur 3 tahun, agar otak kanan dan kiri berkembang optimal. Kalau hanya melatih tangan kanan, maka fungsi otak kanan tidak berkembang optimal, sehingga anak tidak trampil berfikir divergen (meluas), rendah daya imajinasinya, kurang kreatif, kurang mampu kendalikan emosi, kurang berjiwa seni, spiritual, intuisi dan abstrak. Anak yang kidal, latihlah ia menggunakan kedua tangan dan kakinya sama seringnya. Jangan paksakan ia menggunakan tangan kanan saja, karena otak fungsi otak kanannya akan kurang berkembang.
Adapun tahapan perkembangan kemampuan balita usia 1 hingga 3 tahun diantaranya adalah:
·         Usia 13-15 bulan balita sudah berminat pada gambar, mengambil mainan sendiri, berjalan sendiri, berceloteh dan mampu meniru kegiatan orang lain.
·         Usia 16-18 bulan balita sudah mengicapkan kata-kata yang lebih banyak, dapat menemukan maianan yang disembunyikan, dan mengerti fungsi benda.
·          Usia 19-24 bulan, balita sudah memehami konsep sederhana bentuk benda seperti segitiga dan persegi, menyebut nama senbdiri serta mengucapkan satu kaliam
·         Usia 2-3 tahun, balita biasnya sudah dapat mencocokkan bentuk,membangun dan menghbungkan balok, berpakian sendiri dan semakin memahami kata-kata orang lain.
Kemampuan ini harus dioptimalkan dengan cara stimulai. Stimulasi akan mempengaruhi pertumbuhan sinaps (proses sinaptogenesis), yang membutuhkan banyak sialic acid untuk membentuk gangliosida. Ini penting untuk kecepatan proses pembelajaran dan memori.
Kebutuhan stimulasi bermain meliputi berbagai permainan yang merangsang semua indera (pendengaran, penglihatan, sentuhan, membau, mengecap), merangsang gerakan kasar dan halus, berkomunikasi, emosi-sosial, kemandirian, berpikir dan berkreasi. Kebutuhan stimulasi bermain sejak dini akan besar pengaruhnya pada berbagai kecerdasan anak (multipel inteligen).
Selain stimulasi, yang juga penting adalah faktor nutrisi. Dengan nutrisi yang lengkap dan seimbang sejak di dalam kandungan sampai umur 3 tahun, akan semakin banyak jumlah sel-sel otak bayi, semakin bagus kualitas percabangan sel-sel otak, dan semakin bagus fungsi hubungan sinaps antara sel-sel otak bayi dan balita.
Salah satu nutrtisi yang penting bagi perekembangan otak adalah Asam amino. Asam Amino akan membentuk struktur otak dan zat penghantar rangsang (zat neurotransmitter) pada sambungan sel syaraf.
Tyrosine dan Triyptophane merupakan asam amino penting, karena sebagai bahan baku pembuat neurotransmitter katekolamin dan serotonin yang mempengaruhi pengendalian diri, pemusatan perhatian (konsentrasi), emosi dan perilaku anak. Vitamin B6 penting untuk enzim otak. Kekurangan zat besi dan yodium akan menyebabkan rendahnya kecerdasan. Seng dibutuhkan untuk pembelahan dan kemampuan membran sel-sel otak
b.      Tahap Preoperasional
Tahapan ini terjadi pada usia 2-7. Pada tahapan ini, anak mulai merepresentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Kata-kata dan gambar ini menunjukkan adanya peningkatan pemikiran simbolis dan melampaui hubungan informasi sensor dan tindak fisik.

Hal yang perlu diperhatikan oleh ibu:
§  Sentuhan Anda Bermakna Besar
Ikatan batin anda sebagai orang tua sangat erat dengan bayi anda, ajak dia tidur disamping anda, selalu dekat dengannya, ingat dia selalu meskipun anda sibuk bekerja. Jalinan kasih sayang melalui perasaaan adalah cara anda menyampaikan rasa cinta dan sayang anda.
§  Melatih Koordinasi Otot dan Otak
Kordinasi otot dan otak membuat anak tangkas dan tidak ceroboh, melatih panca indranya agar berkembang secara seimbang, temukan caranya pada ebook ini.
§  Memberikan Pendidikan
Untuk mewujudkan cita-cita buah hatinya,tak ada cara lain selain membekali mereka dengan pendidikan sebaik mungkin dan setinggi-tingginya.Untuk mencapai pendidikan yang tinggi tentunya dibutuhkan komitmen yang tinggi dari orang tua, baik itu dari sisi pembiayaan maupun sisi lainnya seperti kesiapan mental, adaptasi terhadap lingkungan dan lain lain.
Tentunya ini bukan hal yang mudah mengingat kebutuhan dan gaya hidup zaman sekarang acapkali membuat Anda abai terhadap upaya yang terkait persiapan dana pendidikan anak-anak. Tidak bisa dipungkiri saat ini biaya pendidikan yang berkualitas begitu mahal dan selalu meningkat setiap tahunnya.

c.       Tahap Concret Operasional.
Pada tahap ini terjadi pada usia 7-11 tahun, anak dapat berpikir secara logis mengenai peristiwa-peristiwa yang konkrit dan mengklarifikasikan benda-benda ke dalam bentuk yang berbeda.

Dari segi emosi sosial, usia tujuh tahun bagi seorang anak adalah ibarat sebuah permulaan menuju karakter yang baik seperti ramah, simpatik, hangat dan mudah bekerja sama. Ia juga memiliki sikap empati atau tidak egois pada yang lain. Itu disebabkan karena ia memiliki kontrol diri dan stabilitas yang lebih kuat dibanding sebelumnya. Sikap yang buruk pada tahun lalu seperti berbohong, menipu dan mencuri berkurang secara drastis. Namun, kalau perilaku buruk ini tetap terjadi, orang tua harus mengambil langkah tegas agar anak mengerti bahwa ia salah. Baik salah menurut etika sosial, maupun dari sudut pandang agama Islam. Konsekuensi dari berbohong, menipu dan mencuri dapat berupa nasihat, dihapusnya fasilitas (untuk sementara), dan mengembalikan barang yang dicuri. Dengan demikian, hukuman harus berbeda sesuai level kesalahan. Dan pastikan orang tua konsisten dengan itu.

Hukuman disiplin hendaknya disertai dengan diskusi tentang bagaimana supaya anak dapat berperilaku lebih baik di lain waktu. Ini penting, karena pada usia ini anak sudah dapat mencerna alasan dan logika yang benar asal disampaikan dengan cara yang sederhana. Dalam segi kepercayaan diri (self-esteem), anak usia 7 tahun cukup labil. Oleh karena itu, sering-seringlah memberi motivasi dan masukan positif. Termasuk membantunya menghentikan kecenderungan menyalahkan diri sendiri (self-critical) dengan penekanan bahwa yang terpenting adalah apa yang sudah dipelajari, bukan hasil akhir. Sekali-kali, anak hendaknya mendapat kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri. Dengan kemampuannya untuk mencerna suatu instruksi secara rasional, maka orang tua dianjurkan untuk memulai aktifitas yang dapat menstimulasi nalar berfikirnya. Misalnya, mengajak berdiskusi tentang nilai benar dan salah, baik dan buruk. Juga perbedaan antara kebenaran menurut etika sosial dan secara agama. Misalnya, nilai benar dan salah dalam etika sosial adalah berdasarkan kesepakatan manusia. Sedang nilai benar dan salah secara Islam adalah berdasar wahyu Al Quran dan Sabda atau Hadits Nabi. Menstimulasi daya nalarnya juga dapat dilakukan dengan cara memberi pertanyaan yang mengundang anak untuk berfikir, memberi teka-teki dan bermain game yang membutuhkan pikiran. Kesabaran juga diperlukan orang tua atas sikap anak yang agak labil dan suka emosi.

Rukun Islam yang lima sudah perlu diperkenalkan secara lebih rinci dibanding sebelumnya. Terutama terkait kewajiban melaksanakan shalat lima waktu. Walaupun secara syari’ah, anak usia 7 tahun belum wajib melaksanakan salat, akan tetapi, pembiasaan sudah harus dimulai dari usia ini. sebagaimana tersurat dari sabda Nabi

“Perintahkanlah anak-anakmu sekalian shalat saat usia mereka tujuh tahun.” (Hadits Riwayat Abu Daud).

Taat dan hormat pada kedua orang tua (QS Luqman 31:14) merupakan salah satu nilai agama yang hendaknya menjadi etika prioritas kedua—setelah taat pada Allah– untuk ditanamkan pada anak sejak dini. Karena ia memainkan peran penting atas sukses tidaknya orang tua mendidik anak. Nilai sebaik apapun yang diajarkan akan percuma jika anak tidak mentaati orang yang mendidiknya. Pada waktu yang sama orang tua hendaknya menjadi contoh hidup atau tauladan (uswah hasanah) dari segala ucapan, nasihat dan segala hal baik yang diajarkan pada anaknya (QS Al Ahzab 33:21). Karena tidak ada ajaran perilaku yang paling efektif dan efisien kecuali apabila apa yang dikatakan pendidik sama dengan apa yang dilakukannya. Orang tua jangan pernah mengajarkan suatu kebaikan, kalau tidak dapat memberi contoh dengan tindakan nyata.

0 komentar:

Poskan Komentar